Pages

Ayo Ikut Aku Menemui Istrimu, ‘Aina

               Dari Tsabit Al Banani Rahimahullah dia menceritakan, ada seorang pemuda yang terlibat dalam sebuah peperangan. Pemuda tersebut begitu kuat keinginannya untuk menjadi seorang syuhada. Entah berapa peperangan yang telah ia ikuti namun syahid tak kunjung menyapanya. Sehingga pemuda itu bertekad jika dalam peperangan ini dirinya tidak terbunuh di jalan Allah, aku akan kembali ke kampung halaman dulu, kata pemuda tersebut kepada kawan-kawan seperjuangannya. "Aku mau menikah", katanya berbinar. Hari itu panas cukup menyengat. Orang yang sedang berpuasa seperti dirinya berusaha mencari tempat berteduh, seperti di bawah pohon yang tidak jauh dari kemah pasukannya. Tak lama kemudian pemuda inipun terlelap tidur siang. Menjelang matahari tergelincir para sahabatnya membangunkan pemuda tersebut untuk sholat Zhuhur.

             Namun mereka keheranan, tidak seperti biasanya ia bersegera untuk sholat. Pemuda itu tidak bergegas mengambil air wudlu, ia bahkan menangis tersedu saat terjaga dari tidurnya. Para sahabatnya merasa khawatir telah terjadi sesuatu kepadanya. “Ada apa dengan dirimu, ya akhi” kata mereka. Setelah diam sejenak menenangkan dirinya si Pemuda menjawab “Tidak ada apa-apa kawan. Tak ada yang perlu kalian khawatirkan terhadap diriku” katanya. Aku hanya bermimpi tadi. Iapun kemudian menceritakan mimpi yang dialaminya. Mimpi yang membuatnya menangis tatkala dibangunkan oleh kawan-kawannya. Dalam tidurku, kata pemuda itu menceritakan mimpinya, aku didatangi seseorang. “Ayo ikut aku menemui isterimu, ‘Aina”. 

Lantas akupun ikut dengannya. Aku diajaknya memasuki satu negeri yang terang penuh cahaya. Belum hilang rasa takjubku, aku diajaknya memasuki sebuah taman yang teramat indah yang keindahannya belum pernah kulihat sebelumnya. Kudapati ditaman itu sepuluh wanita yang kecantikannya belum pernah kulihat seumur hidupku. Aku tanyakan pada salah satu di antara mereka. “Adakah diantara kalian ‘Aina [1]” tanyaku. Diantara mereka menjawab :”Ya ‘Aina ada, kami hanya dayang-dayangnya, masuklah ke sana” Subhanallah, dayang-dayangnya seperti ini bagaimana dengan ‘Aina, pikirku. Lantas aku masuk dengan yang mengajaku tadi ke taman yang ada di dalamnya. Kudapati taman yang jauh lebih indah dari taman sebelumnya. Yang lebih menakjubkan lagi di sana ada duapuluh wanita cantik yang kecantikannya jauh melebihi sepuluh ‘dayang’ yang kutemui di taman sebelumnya. Kutanyakan pada duapuluh wanita jelita itu, adakah diantara kalian ‘Aina? Mereka menjawab :”Ya, ‘Aina ada dan kami adalah dayang-dayangnya, masuklah” Akupun masuk ketempat yang mereka tunjuki. Lagi-lagi pemandangan yang luar biasa terhampar di depan mataku. Taman yang jauh melebihi dua taman yang terlebih dahulu aku masuki. Di sanapun tampak tigapuluh wanita teramat cantik yang melebihi wanita-wanita yang kutemui tadi. Mereka yang ternyata juga adalah dayang-ayang mempersilakan aku untuk memasuki sebuah kubah terbuat dari batu Yaqut berwarna merah, yang sinar cahayanya berpendar di sekitarnya. "Masuklah", kata orang yang mengantarku. Akupun memasukinya dan kudapati seorang wanita cantik jelita mengalahkan semua wanita yang aku lihat sebelumnya, dia duduk seorang diri. Aku duduk menghampirinya. Kami berbicara dengannya. Saat kami berbicara orang yang mengantarku memanggil di luar. “Ayo kita harus segera pergi” katanya. Entahlah, aku seperti tidak memiliki kekuatan untuk menolaknya padahal aku masih ingin bersamanya. Kulihat mendung menggantung di wajah ‘Aina. Matanya seakan berbicara agar aku tidak meninggalkannya. “Berbukalah dengan kami malam ini ya!” kata ‘Aina memintaku. Saat itulah aku dibangunkan kalian. Ternyata itu adalah mimpi. Itulah yang menyebabkan aku menangis", kata pemuda itu mengakhiri ceritanya. Setelah sholat, panggilan jihad dikumadangkan. Kaum muslimin kemudian bergegas mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh. Terjadilah peperangan dahsyat dengan musuh-musuh Islam. Ketika matahari mendekati peraduannya, ketika orang yang berpuasa saatnya berbuka, pemuda itu mendapat apa yang dia inginkan. Ia terbunuh dalam keadaan masih berpuasa. Kata Tsabit Al Banani Radhiallahu’anhu, "Aku menduganya ia dari kalangan kaum Anshar. Sepertinya dia mengetahui apa yang akan didapatkannya." 

[Diterjemahkan secara bebas oleh Al Ustadz Abu Zaky bin Muchtar Dari Kitab Kitabul Jihad Karya Al Imam Al Hafizh Al Mujahid Abdullah Ibnul Mubarak] __________ Footnote [1] ‘Aina artinya: yang bermata jeli berbinar (Lisanul ‘Arab 13/302)
Read More..

Mencintai Allah Adalah Dengan Cara yang Dicintai Oleh-Nya

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 

Di antara hal-hal yang seyogyanya diperhatikan secara seksama adalah bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman dalam kitab-Nya, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali Imran: 31) Generasi salaf berkata, "Di zaman nabi ada orang mengaku mencintai Allah, maka Allah menurunkan ayat ini."
 
Dia menjelaskan bahwa kecintaan-Nya diperoleh denan mengikuti Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam. mengikuti rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam akan menjadi penyebab kecintaan Allah Subhanahu wata’ala kepada hamba-Nya. Ini adalah cinta, yang dengan cintai itu Allah Subhanahu wata’ala menguji orang-orang yang mengaku mencintai-Nya. Karena dalam perkara ini banyak orang-orang yang hanya mengaku-aku dan terjadi kesimpangsiuran. Oleh karena itu, diriwayatkan dari Dzin Nuun al Mishri bahwa mereka telah berbicara tentang permasalahan cinta di hadapannya maka beliau menimpali, اسكتوا عن هذه المسالة لئلا تسمعها النفوس فتدعيها "Berhentilah kalian berbicara tentang cinta, karena jiwa-jiwa ini tidak mendengarnya lalu ia mengaku-akunya." Sebagian mereka berkata, وقال بعضهم من عبد الله بالحب وحده فهو زنديق ومن عبد الله بالخوف وحده فهو حرورى ومن عبده بالرجاء وحده فهو مرجئ ومن عبده بالحب والخوف والرجاء فهو مؤمن موحد "Barangsiapa beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan perasaan cinta semata maka dia adalah seorang zindiq. Barangsiapa beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan perasaan takut semata maka dia adalah seorang haruri (Khawarij), dan Barangsiapa beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan perasaan harap semata maka dia adalah seoang Murji’ah. Barangsiapa beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan rasa cinta, takut, dan harap, maka dia adalah seorang mukmin yang bertauhid." Karena dengan perasaan cinta semata (tanpa diiringi rasa takut dan harap) maka akan menyemangati jiwa hingga ia berkepanjangan dalam hawa nafsunya. Ini terjadi jika tidak dibentengi degan perasaan takut kepada Allah Subhanahu wata’ala hingga orang-orang Yahudi dan Nashrani berkata, وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ "Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". (al Maaidah: 18) Didapati pula orang yang mengaku-aku, penyelisihan syariat yang tidak didapati pada orang-orang yang takut kepada-Nya. Oleh karena itu Allah Subhanahu wata’ala telah menggandengkan kecintaan ini dengan perasaan takut kepada-Nya dalam firman-Nya, هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ. مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ "Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat," (Qaaf: 32-34) Konon masyayikh yang mempunyai karya tulis dalam bidang hadits menyebutkannya dalam aqidah-aqidah mereka dalam rangka menghindari orang-orang yang mengaku-aku cinta (kepada Allah) dan menggeluti masalah tersebut tanpa diimbangi dengan perasaan takut. Karena di dalamnya terdapat kerusakan yng seringkali kelompok-kelompok dari kalangan Shufiyah terjerumus di dalamnya. Kerusakan aqidah dan amalan yang mereka (orang-orang Shufi) lakukan telah membuahkan penentangan sejumlah kelompok terhadap pokok dasar thariqat Shufiyah secara total, sehingga orang-orang yang menyimpang (dalam perkara ini) terbagi menjadi dua kelompok. Yang pertama: kelomok yang mengakui kebenaran dan kebathilannya. Dan yang kedua: kelompok yang mengingkari kebenaran dan kebathilannya, sebagaimana pandangan yang dipegang oleh beberapa kelompok dari ahli kalam dan ahli fiqh. Pandangan yang benar adalah mengakui hal-hal yang memang sejalan dengan al Quran dan as Sunnah baik hal-hal itu berada pada kelompoknya atau berada pada kelompok lain. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali Imran: 31) [Disalin dari kitab Tuhfatul 'Iraqiyyah fiil A'malil Qolbih yang ditulis Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Edisi Indonesia Amalan-Amalan Hati, Penerjemah Abu Abdillah Salim Subaid, Penerbit Pustaka Ar Rayyan, halaman 146-148, Judul oleh Admin Blog Sunniy Salafy]
Read More..

Sebab Cintaku Padamu

Saudariku…….
Ku tau dan dapat memahami apa yang engkau rasakan
Betapa lama engkau memendam perasaan itu,,
Serta lamanya engkau terombang-ambing karena perasaan itu.,
Itu mungkin wajar ukhti..
Itu fitrah…
Akan tetapi janganlah engkau terjatuh karenanya..
Jangan pula engkau terlena,,
Sebab saat ini belum pantas bagimu untuk menikmatinya…
Jika engkau benar-benar mencintai seseorang,,
Terkagum karena agama dan kebaikan yang ada pada dirinya,,
Maka berdo’alah agar nanti engkau bisa bersatu dengannya dengan ikatan pernikahan,,
Namun, jika itu tidak terwujud di dunia,,



Maka sebaik-baik tempat kembali dan berkumpul ialah JannahNya
Maka janganlah engkau berputus asa,, berdo’alah kepada Alloh
Agar kalian dipersatukan dalam jannahNya.
Dan untuk saat ini,,
Maka tinggalknlah ia dan sibukkan dirimu dengan amal sholeh dan tholabul ‘ilmi
Mengapa ??
Sebab tidak mungkin engaku dan dia menikah untuk saat ini
Sedangkan jika engkau terus memikirkannya,
maka engkau hanya akan mndzolimi dirimu sendiri.
Janganlah berlaku egois,,
Hanya memikirkan perasaan sendiri tanpa mau memikirkan orang lain.
Hanya mengutamakan nasfu dibanding pemikiran rasional.
Mungkin engkau bahagia sebab nafsu untuk bercengkerama atau sekedar bertegur sapa dengannya (telp./sms) telah terealisasi..
Akan tetapi saudariku,,,,
Pernahkah engkau berfikir,,bagaimana dengan dia??
Bagaimana jika ia terkena fitnah dengan apa yang engkau lakukan??? Padahal beberapa kali ia mencoba untuk menghindar..
Namun ia adalah seorang lelaki normal,,, sejatinya lelaki memiliki hasrat terhadap wanita dan demikian pula halnya wanita.
Maka jadilah wanita yang mampu untuk mengerti

Yaa ukhti fillah
Marilah menjaga kesucian diri,, lalu mengusahakan pula terhadap orang lain…
Dimasa sekarang ini begitu sulit menemukan orang-orang yang menjaga kesucian hati dan jasatnya..
Maka marilah menjadi orang-orang yang menjaga kesucian jiwa.
Menjaga diri agar tak terkena fitnah sebisa mungkin.
Sungguh ukhti,,
Tak ada penyakit yang lebih menakutkan dan berbahaya dibanding penyakit hati yang menimpah anak cucu adam..
Akan tetapi kita harus semangat serta berusaha sebisa mungkin agar terhindar darinya.
Jangan biarkan nafsu menguasai jiwa-jiwa kita.

Saudariku…
Semua orang sejatinya pasti menginginkan sesuatu yang baik lagi suci,,
Akan tetapi,,
Bagaimana mungkin kita akan mendapatkan kebaikan serta kesucian dengan cara yang salah ????
Memperoleh kebaikan dan kesucian melalui cara dan jalan yang salah hanya akan mengurangi bahkan merusak kebaikan lagi kesucian tersebut.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (QS. An Nuur :26)

Jadi,, untuk mendapatkan pasangan yang baik maka jadilah wanita yang baik pula.
Jika suatu saat engaku kecewa sebab laki-laki yang kau cintai lagi engkau tunggu sejak lama pada akhirnya memilih wanita lain,,
Maka janganlah kecewa. Sebab hanya ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama ialah engaku begitu baik dan sayang untuk dapat bersanding dengannya sedangkan kemungkinan ke dua ialah dia begitu baik untukmu atau ada wanita lain yang lebih baik agama dan akhlaqnya darimu yang lebih pantas untuknya.
Seorang yang benar-benar sunni salafy tak akan memilih wanita yang berbeda manhaj dan buruk kepribadiannya. Sebaliknya, wanita yang taat lagi bertaqwa pada Robbnya tak akan mau dinikahkan dengan seorang ikhwan yang tidak semanhaj lagi buruk kepribadiannya.

Wallahu Ta’ala A’lam Bish Showab
Read More..

Wanita Ahli Surga Dan Ciri-Cirinya


Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.

Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Diantaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad : 15)


“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqiah : 10-21)

Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, diantaranya :

“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah : 22-23)

“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)

“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :

“ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu)

Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1557)

Apakah Ciri-Ciri Wanita Surga

Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?

Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.

Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :

1. Bertakwa.

2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.

4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.

5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.

6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.

7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.

8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.

9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.

10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.

11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.

12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).

13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.

14. Berbakti kepada kedua orang tua.

15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.

Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

“ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’ : 13).

Wallahu A’lam Bis Shawab.
Read More..

Nashihat Ulama

Penulis: Asy-Syaikh / Al-Allamah Robii’ bin Haadiy Al-Madkholiy –Hafizhohullahu- 

Asy-Syaikh / Al-Allamah Robii’ bin Haadiy Al-Madkholiy –Hafizhohullahu- بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه أما بعد : 

Maka sesungguhnya disebabkan berbagai musibah dan malapetaka yang telah menimpa islam dan kaum muslimin serta kehinaan dan kerendahan mereka dihadapan musuh-musuhnya yang telah mengerumuni mereka sebagimana halnya orang-orang yang sedang lapar mengerumuni santapannya. Saya mengajak para ‘Ulama kaum Muslimin dan yayasan-yayasan atau organisasi-organisasi ilmiyah disegala penjuru dunia. Dan kepada para pemimpin kaum muslimin seluruhnya untuk mereka bertaqwa kepada Allah dalam permasalahan ummat ini. Dan untuk mereka mengetahui bahaya-bahaya yang mengancam ummat, bahkan malapetaka ,dan bencana yang telah menimpa mereka. kemudian hendaklah mereka segera bertindak berdasarkan rasa tanggung jawab mereka dihadapan Allah , Untuk menyelamatkan Ummat ini dari bala dan kecelakaan yang telah menimpanya juga hendaklah mereka bersegera (sedini mungkin) mengerahkan seluruh cara, yang akan membantu mengeluarkan kaum muslimin dari semua ini.dan yang terpenting diantaranya (cara/jalan tersebut) adalah: “Kembali kepada dien mereka yang haq”, baik dari sisi aqidah,ibadah , akhlaq dan politik, kemudian hendaklah mereka menetapkan metode-metode yang benar yang bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasulnya -shallallahu’alaihi wasallam- . dan apa yang dijalani salafus sholih,lalu mendidik generasi diatasnya, dimesjid –mesjid , sekolah –sekolah dengan berbagai tingkatannya, dan di berbagai media massa. Berpedoman dengan perkataan Rasul yang mulia –shallallahu ‘alaihi wasallam- قول الرسو ل الكريم صلى الله عليه و سلم : " كلكم راع و كلكم مسئو ل عن رعيته " Artinya : “Tiap-tiap kalian adalah pemimmpin dan tiap-tiap kalian akan ditanyai (pertanggung jawabannya) tentang yang dia pimpin .”(1) Dan ucapan Rasul yang mulia –shallallahu ‘alaihi wasallam- : قو ل الرسو ل الكريم صلى الله عليه وسلم : إذا تبا يعتم بالعينة ورضيتم بالزرع واتبعتم أذناب البقر وتركتم الجهاد في سبيل الله سلط الله عليكم ذلا لاينز عه عنكم حتى ترجعوا إلى دينكم . Artinya : “Jika kalian telah jual-beli dengan cara ‘iinah,ridho , (larut) dalam cocok tanam, dan pertenakan serta meniggalkan jihad fiisabiilillah. Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan ,yang Allah tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali ke dien kalian “.(2) Dan tidak diragukan lagi bahwa ummat ini , telah terjerumus kedalam perkara yang terjelek diantara perkara –perkara tersebut,sehingga akhirnya membawa mereka kapada keadaan yang sedemikian pahit . Dan meletakkan dihadapan mereka :firman Allah : قول الله تعالى : وما كان لمؤ من ولا مؤ منة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن تكون لهم الخيرة من أمرهم . Artinya : Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi wanita yang mu’minah Apabila Allah dan Rasulnya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain ) tentang urusan mereka . (Al-Ahzaab:36). Ketahuilah! selama-lamanya kalian tidak akan mendapatkan solusi untuk menyelamatkan ummat ini kecuali harus melalui jalan ini , dan adapun yang mengambil jalan yang lain, tidaklah itu akan menambahkan kepada ummat ini melainkan kehancuran dan kehinaan. Dan sesungguhnya musuh –musuh islam tak satupun yang bisa membikin mereka ridho, kecuali keluarnya ummat ini dari diennya. قول الله تعالى : "ولن ترضى عنك اليهود ولا النصارى حتى تتبع ملتهم " Artinya : “ Orang-orang Yahudi dan Nasharo tidak akan pernah ridho kepadamu , sehingga kamu mengikuti millah mereka. (Al-baqoroh. 120). Saya memohon kepada Allah Rabb Arsys yang besar agar mudah-mudahan memberikan taufiq kepada ummat, pemimpinnya, Ulamanya, serta masyarakat-masyarakatnya , untuk segera mengambil peneyebab –penyebab yang bermanfaat ini, dan menyatukan hati dan kalimat mereka diatas al-Haq. Dalam kesempatan ini, saya tujukan nasehat saya kepada orang-orang yang telah diberi taufiq oleh Allah untuk mengikuti manhaj salaf As-sholih. Agar kiranya bertaqwa kepada Allah dan senantiasa muroqabatullah , secara dzohir dan bathin, dan berbuat ikhlas dalam seluruh perkataan dan ‘amalan-‘amalan mereka kepada Allah , dan hendaklah mereka menyingsingkan lengan (bersungguh-sungguh). Untuk menuntut ilmu yang bermanfaat.. Juga saya wasiatkan kepada para pemilik di jaringan . dijaring laba-laba –internet– hendaklah mereka menjadikan jaringan –jaringan ini sebagai media yang akses dalam menyebarkan manhaj salaf secara ilmiyah dan benar di seluruh sajian mereka melalui media-media yang sudah disediakan buat mereka. Dan hendaklah yang tampil untuk itu (penyajian-penyajian tersebut ) para ‘ulama yang mapan dalam manhaj ini terlebih lagi mereka orang yang khusus (spesialisnya) . Maka barang siapa yang spesialisasinya tafsir Al-Qur’an yang mulia hendaklah ia menulis permasalahan-permasalahan tafsir dan ilmu-ilmunya. ibadah ,mu’amalah-mu’amalah akhlaq –akhlaq dari ayat –ayat yang ia tafsirkan. Sebagaimana mengarah kepada usul-usul tafsir dan jenis-jenisnya. Dan yang spesialisasinya dibidang hadits , hendaklah mengeluarkan perkataan –perkataannya dari sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- dan hendaklah dia mengasaskan permasalahan-permasalahan aqidah dan yang selainnya. Sebagaimana yang kami sebutkan pada saudaranya si Ahli Tafsir di atas, sebagaimana layak baginya menulis makalah-makalah dalam ilmu mushtholah dan Biografi Imam-imam Hadits. Dan hendaklah orang yang spesialisasinya fiqh menulis makalah-makalahnya dibidang ini juga, hendaklah dia memilih diantara yang bisa membantu para penuntut ilmu untuk memahami kitabullah dan sunnah Rasulnya –shallallahu ‘alaihi wasallam- sekaligus menyertakan dalil-dalil disetiap permasalahan yang dia bahas di tiap-tiap pembahasan. Dan hendaklah orang yang spesialisasi di bidang tarikh menulis tentang sirah perjalanan hidup Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam - , Sahabatnya serta ‘Ulama yang memiliki bukti yang jelas dalam membela islam dari kalangan ummat ini . Dan hendaklah orang yang spesialisasinya di bidang bacaan dan tajwid menulis permasalahan- permasalahan dibidang ini pula . Dan Hendaklah orang yang spesialisasinya di bidang bahasa menulis makalah dibidang bahasa pula dengan syarat dia harus menjauhi perkara –perkara yang tidak diakui oleh manhaj salaf ,seperti majaz beserta jenis-jenisnya . dan janganlah tampil untuk mengkritik ahlul bid’ah dan membantah kebathilan –kebathilan mereka kecuali para ‘ulama (orang yang berilmu) Dan saya mohon kepada orang-orang yang bertanggung jawab atas jaringan-jaringan ini seperti sahaab dan teman-temannya agar tidak menerima makalah –makalah. Kecuali yang di cantumkan padanya nama-nama (penulisnya dengan jelas, dan janganlah mereka menerima orang-orang yang menggunakan nama palsu/ samaran.) Sebagaimana saya mohon kepada kaum muslimin secara umum agar menjauhi pertikaian dan penyebab-penyebab perselisihan dan kalau seandainya itu terjadi dikalangan sebagian ikhwah , janganlah mereka memperbanyak jidal -debat dan janganlah mengedarkan mamasukkan sedikitpun darinya kedalam jaringan internet salafiyah atau yang lainnya. Akan tetapi hendaklah mereka mengembalikannya kepada para ‘Ulama agar mereka (para ‘ulama) berkata padanya dengan perkataan yang haq yang insya Allah bisa menyelesaikan perselisihan tersebut . dan saya nasehatkan kepada ikhwah agar bersemangat dalam menyebarkan ‘ilmu yang bermanfaat , dan penyebab-penyebab timbulnya mahabbah = rasa cinta dan ukhwah =persaudaraan diantara mereka . Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepada kita semua dan terhadap apa yang dia cintai dan ia ridhoi , dan mudah-mudahan Allah menyatukan hati kita semua. sesungguhnya Rabbku benar-benar mendengar Do’a. Ditulis oleh: Syaikh Rabii’ bin Haadiy Umair Al-Madkholiy Tgl . 25 Dzul qo’dah 1424 H. Diterjemahkan oleh: ABU HISYAAM AS-SALAFIY (http://thullabulilmiy.or.id/modules/news/article.php?storyid=6)
Read More..

Nasehat Bagi Para Wanita Lajang


Penulis: Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’ah Al-Muslimah Fadhilatusy 

Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: 

Saya ingin meminta nasehat dari anda, Fadhilatusy Syaikh, pada satu masalah yang khusus bagi saya dan seluruh teman-teman saya dari kalangan wanita. Ketahuilah bahwa telah ditentukan oleh Allah bagi kami bahwa kami belum memiliki kesempatan untuk menikah, sementara kami telah melalui usia menikah dan mendekati usia lanjut. Ini bisa diketahui dan bagi Allah segala pujian serta Allah-lah yang menjadi saksi atas perkataan saya ini. Padahal kami memiliki derajad akhlak dan seluruh dari kami telah meraih gelar kesarjanaan. Akan tetapi inilah nasib kami-Alhamdulilah-dan juga sisi materi, inilah yang menyebabkan tidak seorangpun berani untuk melakukan pernikahan dengan kami. Sungguh keadaan pernikahan di negeri kami dilakukan atas kerja sama antara suami istri dengan pertimbangan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Saya mengharap nasehat dan petunjuk bagi diri saya dan teman-teman. Jawaban : Nasehat yang saya sampaikan kepada para wanita yang seperti ini keadaannya yang tertunda untuk menikah-sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh penanya-untuk berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berdo’a dan menundukkan diri kepada-Nya agar Ia berkenan menyiapkan untuk mereka para suami yang diridhai agama dan akhlak mereka. Bila seseorang jujur niatnya di dalam berdo’a dan berusaha menyingkirkan penghalang-penghalang terkabulnya do’a,maka sungguh Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku. (Al Baqarah:186) “Dan Tuhanmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir:60) Allah Subhanahu wa Ta’ala mengurutkan terkabulnya do’a setelah seseorang menyambut panggilan (ajakkan) Allah dan mengimaninya. Maka saya tidak melihat sesuatu yang lebih kuat dibanding sikap berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdo’a dan tunduk kepada-Nya serta menunggu jalan keluar dengan sabar. Telah tetap riwayat dari Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya pertolongan (kemenangan) disertai dengan kesabaran, kelonggaran itu disertai dengan kesusahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan.” Bagi para wanita tersebut dan yang seperti mereka keadaannya, mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia memudahkan urusan mereka dan disediakan bagi mereka pria- pria yang shaleh yang menginginkan kebaikkan agama dan dunia mereka. Allahu a’lam. (Fatawa Al Mar’ah hal.58) ( Dinukil dari Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’ah Al-Muslimah Bab Nikah wa Thalaq, Edisi Bahasa Indonesia “Fatwa-Fatwa Ulama Ahlus Sunnah Seputar Pernikahan, Hubungan Suami Istri dan Perceraian, Penerbit Qaulan Karima Purwokerto/ Cet.I )
Read More..

Meraih Kebahagiaan Hakiki

Penulis: Al Ustadz Abdurrahman Lombok 

          Tak ada orang yang ingin hidupnya tidak bahagia. Semua orang ingin bahagia. Namun hanya sedikit yang mengerti arti bahagia yang sesungguhnya. Hidup bahagia merupakan idaman setiap orang, bahkan menjadi simbol keberhasilan sebuah kehidupan. Tidak sedikit manusia yang mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Menggantungkan cita-cita menjulang setinggi langit dengan puncak tujuan teresebut adalah bagaimana hidup bahagia. Hidup bahagia merupakan cita-cita tertinggi setiap orang baik yang mukmin atau yang kafir kepada Allah Subhanahu Wata'ala. 
        Apabila kebahagian itu terletak pada harta benda yang bertumpuk-tumpuk, maka mereka telah mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Akan tetapi tidak dia dapati dan sia-sia pengorbanannya. Apabila kebahagian itu terletak pada ketinggian pangkat dan jabatan, maka mereka telah siap mengorbankan apa saja yang dituntutnya, begitu juga teryata mereka tidak mendapatkannya. Apabila kebahagian itu terletak pada ketenaran nama, maka mereka telah berusaha untuk meraihnya dengan apapun juga dan mereka tidak dapati. Demikianlah gambaran cita-cita hidup ingin kebahagiaan. Apakah tercela orang-orang yang menginginkan demikian? Apakah salah bila seseorang bercita- cita untuk bahagia dalam hidup? Dan lalu apakah hakikat hidup bahagia itu? Pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan jawaban agar setiap orang tidak putus asa ketika dia berusaha menjalani pengorbanan hidup tersebut. Hakikat Hidup Bahagia Mendefinisikan hidup bahagia sangatlah mudah untuk diungkapkan dengan kata-kata dan sangat mudah untuk disusun dalam bentuk kalimat. 

Dalam kenyataannya telah banyak orang yang tampil untuk mendifinisikannya sesuai dengan sisi pandang masing-masing, akan tetapi mereka belum menemukan titik terang. Ahli ekonomi mendifinisikannya sesuai dengan bidang dan tujuan ilmu perekonomian. Ahli kesenian mendifinisikannya sesuai dengan ilmu kesenian. Ahli jiwa akan mendifinisikannya sesuai dengan ilmu jiwa tersebut. Mari kita melihat bimbingan Allah Subhanahu Wata'ala dan Rasul-Nya Muhammad Shalallahu 'Alahi Wasallam tentang hidup bahagia. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman: Kamu tidak akan menemukan satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling cinta- mencinta kepada orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya walaupun mereka adalah bapak- bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka dan keluarga-keluarga mereka. Merekalah orang-orang yang telah dicatat dalam hati-hati mereka keimanan dan diberikan pertolongan, memasukkan mereka kedalam surga yang mengalir dari bawahnya sungai-sungai dan kekal di dalamnya. Allah meridhai mereka dan mereka ridha kepada Allah. Ketahuilah mereka adalah (hizb) pasukan Allah dan ketahuilah bahwa pasukan Allah itu pasti menang. Dari ayat ini jelas bagaimana Allah Subhanahu Wata'ala menyebutkan orang-orang yang bahagia dan mendapatkan kemenangan di dunia dan diakhirat. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu Wata'ala dan hari akhir dan orang-orang yang menjunjung tinggi makna al-wala' (berloyalitas) dan al-bara' (kebencian) sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah Subhanahu Wata'ala dan Rasulullah Shalallahu 'Alahi Wasallam. 

As-Sa'di dalam tafsir beliau mengatakan: "Orang-orang yang memiliki sifat ini adalah orang-orang yang telah dicatat di dalam hati-hati mereka keimanan. Artinya Allah mengokohkan dalam dirinya keimanan dan menahannya sehingga tidak goncang dan terpengaruh sedikitpun dengan syubhat dan keraguan. Dialah yang telah dikuatkan oleh Allah dengan pertolongn-Nya yaitu menguatkanya dengan wahyu-Nya, ilmu dari-Nya, pertolongan dan dengan segala kebaikan. Merekalah orang-orang yang mendapatkan kebagian dalam hidup di negeri dunia dan akan mendapatkan segala macam nikmat di dalam surga dimana di dalamnya terdapat segala apa yang diinginkan oleh setiap jiwa dan menyejukkan hatinya dan segala apa yang diinginkan dan mereka juga akan mendapatkan nikmat yang paling utama dan besar yaitu mendapatkan keridhaan Allah dan tidak akan mendapatkan kemurkaan selama - lamanya dan mereka ridha dengan apa yang diberikan oleh Rabb mereka dari segala macam kemuliaan, pahala yang banyak, kewibawaan yang tinggi dan derajat yang tinggi. Hal ini dikarenakan mereka tidak melihat yang lebih dari apa yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata'ala". Abdurrahman As-sa'dy dalam mukadimah risalah beliau Al-Wasailul Mufiidah lil hayati As-Sa'idah hal. 5 mengatakan: "Sesungguhnya ketenangan dan ketenteraman hati dan hilangnya kegundahgulanaan darinya itulah yang dicari oleh setiap orang. Karena dengan dasar itulah akan didapati kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki". Allah berfirman: 

Barang siapa yang melakukan amal shleh dari kalangan laki-laki dan perempuan dan dia dalam keadaan beriman maka Kami akan memberikan kehidupan yang baik dan membalas mereka dengan ganjaran pahala yang lebih baik dikarenakan apa yang telah di lakukannya. As-Sa'dy dalam Al-Wasailul Mufiidah lil hayati As-Sa'idah halaman 9 mengatakan: "Allah memberitahukan dan menjanjikan kepada siapa saja yang menghimpun antara iman dan amal shaleh yaitu dengan kehidupan yang bahagia dalam negeri dunia ini dan membalasnya dengan pahala di dunia dan akhirat". Dari kedua dalil ini kita bisa menyimpulkan bahwa kebahagian hidup itu terletak pada dua perkara yang sangat mendasar : Kebagusan jiwa yang di landasi oleh iman yang benar dan kebagusan amal seseorang yang dilandasi oleh ikhlas dan sesuai dengan sunnah Rasulullah Shalallah 'Alahi Wasallam. 

Kebahagian Yang Hakiki dengan Aqidah Orang yang beriman kepada Allah dan mewujudkan keimanannya tersebut dalam amal mereka adalah orang yang bahagia di dalam hidup. Merekalah yang apabila mendapatkan ujian hidup merasa bahagia dengannya karena mengetahui bahwa semuanya datang dari Allah Subhanahu Wata'ala dan di belakang kejadian ini ada hikmah-hikmah yang belum terbetik pada dirinya yang dirahasiakan oleh Allah sehingga menjadikan dia bersabar menerimanya. Dan apabila mereka mendapatkan kesenangan, mereka bahagia dengannya karena mereka mengetahui bahwa semuanya itu datang dari Allah yang mengharuskan dia bersyukur kepada-Nya. Alangkah bahagianya hidup kalau dalam setiap waktunya selalu dalam kebaikan. Bukankah sabar itu merupakan kebaikan? Dan bukankah bersyukur itu merupakan kebaikan? Diantara sabar dan syukur ini orang-orang yang beriman berlabuh dengan bahtera imannya dalam mengarungi lautan hidup. Allah berfirman; Jika kalian bersyukur (atas nikmat-nikmat-Ku ), niscaya Aku akan benar-benar menambahnya kepada kalian dan jika kalian mengkufurinya maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". Rasulullah Shalallah 'Alahi Wasallam bersabda: Dan tidaklah seseorang di berikan satu pemberian lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran". ( HR. Bukhari dan Muslim ) Kesabaran itu adalah Cahaya. Umar bin Khatthab Radhiyallahu 'Anhu brkata: "Kami menemukan kebahagian hidup bersama kesabaran". ( HR. Bukhari) Mari kita mendengar herannya Rasululah terhadap kehidupan orang-orang yang beriman di mana mereka selalu dalam kebaikan siang dan malam: "Sungguh sangat mengherankan urusannya orang yang beriman dimana semua urusannya adalah baik dan yang demikian itu tidak didapati kecuali oleh orang yang beriman. Kalau dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya dan kalau dia ditimpa mudharat mereka bersabar maka itu merupakan satu kebaikan baginya". 

As-Sa'dy rahilahullah mengatakan: "Rasulullah memberitakan bahwa seorang yang beriman kepada Allah berlipat-lipat ganjaran kebaikan dan buahnya dalam setiap keadaan yang dilaluinya baik itu senang atau duka. Dari itu kamu menemukan bila dua orang ditimpa oleh dua hal tersebut kamu akan mendapatkan perbedaan yang jauh pada dua orang tersebut, yang demikian itu disebabkan karena perbedaan tingkat kimanan yang ada pada mereka berdua". Lihat Kitab Al- Wasailul Mufiidah lil hayati As-Sa'idah halaman 12. Dalam meraih kebahagiaan dalam hidup manusia terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, orang yang mengetahui jalan tersebut dan dia berusaha untuk menempuhnya walaupun harus menghadapi resiko yang sangat dahsyat. Dia mengorbankan segala apa yang diminta oleh perjuangan tersebut walaupun harus mengorbankan nyawa. Dia mempertahankan diri dalam amukan badai kehidupan dan berusaha menggandeng tangan keluarganya untuk bersama-sama dalam menyelamatkan diri. Yang menjadi syi'arnya adalah firman Allah; Hai orang-orang yang beriman jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka. Karena perjuangan yang gigih tersebut, Allah mencatatnya termasuk kedalam barisan orang- orang yang tidak merugi dalam hidup dan selalu mendapat kemenangan di dunia dan di akhirat sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat Al- 'Ashr 1-3 dan surat Al-Mujadalah 22. Mereka itulah orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan merekalah pemilik kehidupan yang hakiki. Kedua, orang yang mengetahui jalan kebahagian yang hakiki tersebut namun dikarenakan kelemahan iman yang ada pada dirinya menyebabkan dia menempuh jalan yang lain dengan cara menghinakan dirinya di hadapan hawa nafsu. Mendapatkan kegagalan demi kegagalan ketika bertarung melawannya. Mereka adalah orang-orang yang lebih memilih kebahagian yang semu daripada harus meraih kebahagian yang hakiki di dunia dan di Akhirat kelak. Menanggalkan baju ketakwaannya, mahkota keyakinannya dan menggugurkan ilmu yang ada pada dirinya. Mereka adalah barisan orang-orang yang lemah imannya. Ketiga, orang yang sama sekali tidak mengetahui jalan kebahagiaan tersebut sehingga harus berjalan di atas duri-duri yang tajam dan menyangka kalau yang demikian itu merupakan kebahagian yang hakiki. Mereka siap melelang agamanya dengan kehidupan dunia yang fana' dan siap terjun ke dalam kubangan api yang sangat dahsyat. Orang yang seperti inilah yang dimaksud oleh Allah dalm surat Al-'Ashr ayat 2 yaitu "Orang-orang yang pasti merugi" dan yang disebutkan oleh Allah dalam surat Al-Mujadalah ayat 19 yaitu " Partainya syaithon yang pasti akan merugi dan gagal". Dan mereka itulah yang dimaksud oleh Rasulullah dalam sabda beliau: 

Di pagi hari seseorang menjadi mukmin dan di sore harinya menjadi kafir dan di sore harinya mukmin maka di pagi harinya dia kafir dan dia melelang agamanya dengan harga dunia . Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dalam hadits Rasulullah Shalallahu 'Alahi Wasallam, diantaranya adalah kebahagian hidup dan kemuliaannya ada bersama keteguhan berpegang dengan agama dan bersegera mewujudkannya dalam bentuk amal shaleh dan tidak bolehnya seseorang untuk menunda amal yang pada akhirnya dia terjatuh dalam perangkap syaithan yaitu merasa aman dari balasan tipu daya Allah Subhanahu Wata'ala. 

Hidup harus bertarung dengan fitnah sehingga dengannya ada yang harus menemukan kegagalan dirinya dan terjatuh pada kehinaan di mata Alllah dan di mata makhluk-Nya. Wallah 'Alam
Read More..

Bila Rasa Cemburu Telah Hilang

         
            Perhatikanlah, betapa banyak kita saksikan para wanita yang bertabaruj atau menampakkan keindahan perhiasan tubuhnya didepan umum. Kita lihat para wanita yang belajar dan bekerja diantara barisan para lelaki, mereka bekerja bersama lelaki sebagaimana salah seorang mereka bekerja bersama salah seorang keluarganya yang mahram, mengendarai mobil dan bersafar bersamanya Setiap insan pernah merasakan cemburu, namun adakah rasa cemburu tatkala melihat kemaksiatan ? 

Kini kita lihat bagaimana fenomena yang ada bila rasa cemburu telah hilang. Betapa banyak orang yang mengaku dirinya memiliki rasa cemburu, namun justru menanggalkan pakaian malu dengan melakukan perbuatan-perbuatan haram atau membiarkan kemaksiatan. Padahal Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam telah mewasiatkan kepada umatnya agar memiliki akhlak Al-Ghoiroh (cemburu). Beliau telah menerangkan kedudukan akhlak yang utama ini dalam sabdanya (yang artinya) : 

"Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala cemburu dan cemburunya Allah bila seseorang mendatangi apa yang Allah haramkan atasnya." (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau Shalallahu’alaihi Wassallam menjelaskan bahwa Allah memiliki sifat cemburu bila dilanggar keharaman-keharamannya dan dilampaui batasan¬-batasannya, dan siapa yang telah melanggar apa yang Allah haramkan berarti telah (berani) melewati sebuah pagar yang besar. Akhlak AI-Ghoiroh ini begitu menghujam dalam hati para sahabat, karena perhatian dan kesungguhan mereka dalam mengikuti wasiat Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam. Sa'ad bin Ubadah Radhiyallahu ‘anhu berkata : 

"Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku niscaya aku akan memukulnya dengan pedang sebagai sangsinya. Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda, "Apakah kalian takjub dengan cemburunya Sa'ad, sesungguhnya aku lebih cemburu darinya dan Allah lebih cemburu dari padaku". (HR. Bukhari). Akhlak ini juga berpengaruh dalam diri Aisyah Radhiyallahu ‘anha tatkala ia berkata : "Aku mendengar Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda :"Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak bersandal, telanjang dan belum berkhitan". Aku berkata, "Perempuan dan laki-laki berkumpul, (berarti) sebagian mereka akan melihat sebagian yang lain ?!" Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda, "Wahai Aisyah ! Urusan saat itu lebih mengerikan dari pada mereka saling melihat". (HR.Bukhari). 

Karena rasa cemburulah Aisyah Radhiyallahu ‘anha belum berfikir tentang ketakutan yang terjadi pada hari itu. Demikian pula Ali Radhiyallahu ‘anhu ketika diutus kesuatu negeri beliau berkata kepada penduduknya : "Aku telah mendengar bahwa wanita-wanita kalian akan mendekati orang-orang kafir azam di pasar-pasar, tidakkah kalian cemburu, sesungguhnya tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak memiliki rasa cemburu." Begitulah Al-Ghoiroh yang besar dalam diri para sahabat dan akhlak ini akan tetap berpengaruh pada diri orang-orang yang berpegang teguh dengan atsar salaf dan mengikuti jalan mereka. 

Sebaliknya, al-ghoiroh hanya sekedar menjadi pengakuan bagi orang-orang yang ucapannya menyelisihi perbuatannya. Mereka mengaku memiliki rasa cemburu, namun membiarkan istri dan anak-anak perempuannya keluar rumah dengan menampakkan wajah, lengan, dada dan lekuk- lekuk tubuh, kemudian menjadi tontonan gratis para lelaki jalanan. Suami yang demikian hendaknya memperhatikan peringatan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam dalam sabdanya :

"Tiga gologan yang tidak akan masuk syurga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan dayuts." (HR. Nasa'i 5 :80-81; Hakim 1: 72, 4 : 146, Baihaqi 10 : 226 dan Ahmad 2 : 134). Dayuts ditafsirkan hadits-hadits lain, yaitu : Seorang kepala rumah tangga yang membiarkan kejelekan atau kerusakan dalam rumah tangganya. (Fathul Bari 10 : 401). Dayuts juga ditafsirkan oleh ulama : orang yang tidak cemburu terhadap istrinya. Karena tiadanya rasa cemburu, akhirnya nampaklah perbuatan-perbuatan yang mengotori rasa malu dan melemahkan muru'ah (wibawa) sebagaimana perbuatan wanita-wanita jahil zaman sekarang. Perhatikanlah, betapa banyak kita saksikan para wanita yang bertabaruj atau menampakkan keindahan perhiasan tubuhnya didepan umum. Kita lihat para wanita yang belajar dan bekerja diantara barisan para lelaki, mereka bekerja bersama lelaki sebagaimana salah seorang mereka bekerja bersama salah seorang keluarganya yang mahram, mengendarai mobil dan bersafar bersamanya atau kita lihat juga perginya seorang wanita bersama sopir pribadi ke tempat-tempat seperti pasar, sekolah dan lain-lain, tanpa rasa malu sedikitpun, bahkan sopir tadi dengan bebasnya keluar masuk rumah sebagaimana mahramnya tanpa wanita itu merasa berdosa dan malu pada sopirnya, dengan dalih ia hanya seorang sopir. Betapa banyak terjadi kesalahan dan pelanggaran kehormatan dengan sebab mengikuti hawa nafsu dan kebodohan.
Kita lihat pula perbuatan wanita yang membeli dan melihat majalah- majalah cabul dan film hina serta mendengarkan musik dan lagu. Atau perbuatan wanita yang menari dalam resepsi pernikahan dan berbagai pesta dengan diiringi hiruk-pikuknya suara musik serta mengenakan pakaian yang dapat membangkitkan syahwat. Lalu, apakah para wanita itu mengetahui apa makna malu yang sebenarnya?!!. Ataukah para wali-wali para wanita itu menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki AI-Ghoiroh (cemburu) ?!! 

Sungguh hal itu amat jauh Oleh karena itu hendaklah kita kembali dan bertaubat kepada Allah aza wajalla dan menghisab atas apa yang telah kita lakukan berupa kebaikan dan keburukan. 

(Disadur dari Kutaib wa Asafa Alal Ghoiroh oleh Ummu Abdillah)
Read More..

Butuhnya Manusia akan Ilmu

             
                  Sebagaimana halnya makanan, yang dipergunakan manusia untuk kelangsungan hidup. Karena seandainya keimanan tidak dipupuk dengan ilmu, maka ibarat tanaman menjadi layu bahkan hancur. Sehingga tidaklah terwujud keberadaan iman seorang kecuali dengan ilmu. Al Imam Ahmad menyatakan : "Manusia sangat membutuhkan ilmu dari sekedar menyantap makanan dan minuman; karena makanan dan minuman dibutuhkan oleh manusia sekali atau dua kali dalam sehari. Sedangkan ilmu ilmu dibutuhkan setiap saat." (Thobaqot Al Hanabilah 1/147) Bahkan seluruh makhluk Allah sangat butuh kepada ilmu. Karena tidak akan tegak urusan makhluk kecuali dengan ilmu. Langit-langit dan bumi bisa berdiri kokoh adalah dengan ilmu, begitu pula diturunkannya para rasul dan kitab-kitab-Nya juga dengan ilmu. Serta tidak akan diketahui perkara halal-haram kecuali dengan ilmu. 

Oleh karena itu, kewajiban seseorang dalam menuntut ilmu syar'i berlangsung hingga menjelang wafat. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam senantiasa menyampaikan dakwah dan nasehat hingga menjelang wafat beliau. Diriwayatkan oleh Al Hakim di dalam Mustadraknya dan dia berkata : -di atas syarat dua syaikh- dari hadits Anas radliyallahu'anhu dari Nabi Shallallahu'alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda :
"Dua keinginan yang tidak pernah merasa puas darinya : "Keinginan terhadap ilmu dan tidak pernah merasa puas darinya, dan keinginan terhadap dunia dan tidak pernah merasa puas darinya. Nabi menjadikan keinginan terhadap ilmu dan tidak pernah merasa puas darinya sebagai komitmen iman dan sifat-sifat kaum mukminin. Oleh karena itu para imam kaum muslimin apabila dikatakan kepada mereka : "Sampai kapan engkau menuntut ilmu?" maka dia mengatakan : "sampai wafat!" Nu'aim bin Hammad berkata : "Aku mendengar Abdullah ibnul Mubarak radliyallahu'anhu berkata - sekelompok kaum mencelanya karena beliau sering menuntut ilmu hadits. Maka mereka mengatakan ; "sampai kapan engkau mendegarkan (hadits)? Beliau menjawab : "sampai mati!" Al Hasan bin Manshur Al Jashshosh berkata : "Aku mengatakan kepada Ahmad bin Hambal radliyallahu'anhu : "Sampai kapan engkau akan menulis hadits?" maka beliau mejawab : "Hingga wafat!" Abdullah bin Muhammad Al Baghawi berkata : "Aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata : "Sesungguhnya aku menuntut ilmu sampai masuk ke liang kubur." Muhammad bin Isma'il As Shooigh berkata : 

"Aku tinggal bersama ayahku di Baghdad, kemudian lewat di hadapan kami Ahmad bin Hambal dalam keadaan memegang sandal. Lantas ayahku menarik bajunya, dan berkata : "Wahai Abu Abdillah (panggilan Ahmad bin Hambal), apakah engkau tidak malu! sampai kapan engkau menuntut ilmu? Beliau menjawab : "sampai mati!" Demikianlah beberapa perkataan para ulama yang menerangkan begitu semangatnya mereka dalam menuntut ilmu. Sehingga mereka mencurahkan waktu dan tenaga untuk meraih lezatnya ilmu. Sesungguhnya bagi siapa saja yang memahami hikmah dibalik perintah menuntut ilmu tersebut niscaya dia tidak akan pernah menyia-nyiakan waktunya sedikitpun dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Dia akan merasa rugi tatkala luput dari manisnya ilmu. Dia akan memanfaatkan masa sehatnya untuk banyak menimba ilmu sebelum tiba masa sakit. Serta dia akan mengisi waktu hidupnya dengan hal-hal yang mengundang keridhoan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebelum ajal tiba. Begitulah seharusnya cerminan seorang mukmin yang mengharapkan perjumpaan Rabbnya. Seiring dengan itu, syetan juga tak pernah menyerah untuk menjerumuskan manusia ke lembah kebodohan. Sehingga dengan kebodohan seseorang terhadap ilmu mengakibatkan lemahnya keimanan dan minimnya ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sesungguhnya orang yang bodoh tidak mengetahui hakekat iman dan taqwa. Dan tidak mengetahui pula jalan untuk menuju keselamatan berdasarkan ilmu dan keyakinan yang mantap. Tentu saja hal ini semakin membuka peluang bagi syetan untuk menggiring orang tersebut kepada kemaksiatan dan kesesatan. Tatkala kebodohan telah merajalela, maka akan meningkat pula kemaksiatan, kriminalitas, cinta kepada dunia yang berlebihan dan takut apabila kematian menjemputnya, dan sebagainya. Semua Ini merupakan diantara sebab lemahnya kaum muslimin, sehingga Allah menimpakan kehinaan kepada mereka. Rasa gentar yang menghunjam pada jiwa-jiwa musuh-musuh Islam hilang seiring dengan dicabutnya kewibawaan kaum muslimin. Sehingga musuh-musuh kaum Muslimin tidak segan-segan untuk mengintimidasi dan memberangus persatuan kaum muslimin. Sementara mayoritas manusia terlena dengan kehidupan dunia yang fana ini dan melupakan akherat yang kekal abadi. Oleh karena itu diantara sifat-sifat penuntut ilmu yang diajarkan oleh rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam adalah ihklas dalam menuntut ilmu. Sebab dengan keikhlasan ini akan menghantarkan seseorang kepada tingkatan hamba yang sangat butuh kepada ilmu dan membentenginya dari riya' (ingin dipuji oleh orang lain) dan sebagainya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : 
"Barangsiapa yang mempelajari ilmu dari apa- apa yang dia cari dengannya wajah Allah Azza wa Jalla. Tidaklah dia belajar kecuali untuk memperoleh bagian dari dunia, maka dia tidak akan mencium wangi syurga pada hari kiamat." (HR Ibnu Majah, Al Muqadimah 1/252 dan Ahmad, Al Musnad 2/338) 

Dalam berhias dengan keikhlasan ini juga harus dibimbing dengan ilmu dan tidak cukup dengan modal semangat semata. Sebab berapa banyak orang yang pada awalnya ikhlas dalam melaksanakan amalan, namun tatkala berada di tengah perjalanan mengalami penurunan secara drastis. Ini semua tidak lepas daripada peran syetan dalam menggoda bani Adam. Syetan berupaya untuk memberikan rasa was-was di dalam diri manusia sehingga memperngaruhi keikhlasan.

Oleh karena itu peran ilmu sangat besar terhadap keikhlasan seseorang. Cukuplah bagi seorang muslim akan berita Allah Subhanahu wa Ta'ala bahwa ilmu merupakan sebaik-baik ganjaran dalam berbuat kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : 
"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan bagi orang yang berbuat baik, agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan ganjaran yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan." (Az Zumar 33-35). 

Dan ini menunjukkan dua ganjaran baik di dunia dan akherat. Al Hasan Berkata : "Barangsiapa yang sangat baik peribadatannya kepada Allah pada masa mudanya, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menganugerahkan hikmah (Ilmu) kepadanya tatkala beranjak dewasa." Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Dan tatkala dia (Nabi Yusuf) cukup dewasa kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah kami memberikan balasan kepada orang- orang yang berbuat baik." (Al Ilmu Fadluhu wa Syarfuhu 226-227) 

Demikian sifat dan kedudukan ilmu yang sangat mulia sebagai ganjaran yang paling berharga bagi seorang muslim yang ingin menggapainya. Oleh karena itu kebutuhan manusia terhadap ilmu merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar- tawar lagi. Jikalau ingin mendapatkan keberuntungan dunia dan akherat maka tempuhlah jalan ilmu syari'at. Sehingga dengan demikian Allah akan mempermudah baginya untuk menuju surga yang diidam-idamkan. Kita memohon kepada Allah agar dibukakan pintu hati kita dengan taufik dan hidayah-Nya. Sehingga kita senantiasa butuh kepada ilmu yang bermanfaat. Dan mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa mencurahkan kepada jiwa kita perasaan cukup terhadap nikmat-nikmat yang diberikan-Nya. Amin Yaa Mujibas Saailin.
Read More..

Hukum Zakat Profesi

Tolong jelaskan hukum zakat profesi?

JAWAB: zakat adalah ibadah ,dan dalam beribadah hendaknya selalu berpatokan kepada dalil (tauqifiyyah). Dan tentang zakat profesi,tidak ada dalil baik dari Al-qur’an, maupun sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,atau ijmak, atau qiyas yang shohih. Dan tidak satu pun dari kalangan para Ulama salaf yang menyatakan disyari’atkannya. Mereka yang membolehkannya, memasukkan setiap profesi yang menghasilkan uang, termasuk diantaranya penghasilan pemain musik, penyanyi dan yang lainnya. Apakah mungkin Allah akan menerima zakat dari penghasilan yang haram. Lalu mereka pun berselisih dalam hal nisab,dan kadar yang dikeluarkan. Kesimpulannya, mewajibkan sesuatu kepada harta manusia apa-apa yang tidak diwajibkan oleh Allah ,adalah perkara yang diharamkan,dan termasuk memakan harta manusia dengan cara yang batil Allah Ta’ala berfirman: وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُواْ بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُواْ فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ 188. Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui. (QS,Al baqoroh:188)

. -- Al Ustadz Abu Karimah Askary --
Read More..

Membawa Mushaf Tertutup ke Dalam WC

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 
 
Ana pernah baca di suatu buku terjemahan ( bukan terjemahan penerbit salafy) fatwa-fatwa Syeikh Al Albani. Di sana dituliskan tentang membawa mushaf Al Quran ke dalam WC, dengan keadaan tertutup di dalam saku, di mana beliau membolehkannya apabila terjaga dalam keadaan tertutup. Bagaimana sebenarnya hukum dalam permasalahan ini? (ana sebelumnya beranggapan tidak boleh membawa ayat Al Quran dalam keadaan bagaimana pun) Waalaikumus salaam warohmatullahi wabarokatuh apa yang antum nukilkan dari Syekh Al-Albani rahimahullah Ta’ala yang menyebutkan bahwa beliau membolehkan membawa mushaf kedalam WC bila dalam keadaan tertutup dan terjaga adalah penukilan yang benar dari Beliau rahimahullah Ta’ala. Dan memang terjadi perselisihan dikalangan para ulama tentang hukum membawa mushaf kedalam WC : 1) Pendapat yang tidak membolehkan terkecuali dalam keadaan terpaksa, seperti bila dikhawatirkan dicuri dan yang semisalnya. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Syelh Bin Baaz rahimahullah dalam fatwanya dan Syekh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah dalam dalam kumpulan fatwanya dan juga dalam As-syarhul mumti’, jil:1 ,ketika membahas tentang adab istinja, demikian pula Syekh Al- Fauzan rahimahullah dalam kumpulan fatwa beliau.Mereka beralasan karena mushaf adalah syi’ar agama ini ,dan Allah berfirman: “Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS.Al-Hajj:32) 2) Pendapat yang membolehkan, apabila mushaf tersebut terjaga dan tersimpan dengan baik dalam sakunya, tidak ditampakkan. Dan pendapat inilah yang dikuatkan oleh Syekh Al-Albani rahimahullah Ta’ala, sebagaimana yang beliau fatwakan dalam salah satu kaset yang terkumpul dalam silsilah al-huda wan-nuur. Dan beliau memiliki dua alasan: Pertama: asal hukumnya adalah boleh,dan tidak ada dalil yang melarangnya. Kedua: mengqiyaskan membawa mushaf tersebut dengan apa yang dihafal oleh seorang muslim berupa ayat-ayat al-qur’an, yang tentunya tersimpan dalam hatinya. Maka tidak ada perbedaan diantara keduanya,selama mushaf tersebut terjaga dan tersimpan dengan baik dan tidak dibuka. Adapun ayat tersebut dapat dijadikan sebagai dalil apabila mushaf tersebut dibuka didalam WC. Dan pendapat terakhir inilah yang ana pilih,wallahu A’lam. Namun apabila memungkinkan bagi seseorang untuk tidak membawa mushafnya ke dalam WC, tanpa ada kesulitan baginya,maka tentunya yang demikian lebih afdhal,sebagai bentuk khuruj (keluar) dari perselisihan dikalangan para Ulama. Faedah: Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah Ta’ala membedakan antara mushaf dengan sesuatu yang didalamnya terdapat nama Allah,dan semisalnya. Dimana beliau memakruhkan membawa mushaf,dan tidak memakruhkan selainnya,dengan syarat tersimpan dan tidak dinampakkan. Faedah kedua: Termasuk pula dalam hal ini, diperbolehkannya memasukkan sesuatu yang didalamnya terdapat ayat-ayat alqur’an ataukah mushaf,seperti bila terdapat dalam HP, atau mushaf digital, dan semisalnya.Dengan syarat tidak dinampakkan. Wallahu A’lam bis-showab. 
 
-- Al Ustadz Abu Karimah Askary --
Read More..

Siroh Nabi Dalam Berdagang

assalamukalaikum warohmatulahi wabarokaatuh dalam siroh nabi pernah di terangkan bahwa rasul pernah berniaga ikut paman nya, apa ada nash yang lengkap tentang rasul sampai mendapatkan hasil perniagaan yang berlimpah sehingga dapat menikahi ibunda Khadijah dengan mahar seratus unta merah, sukron wasalamukalaikum wr wb Wa'alaikumus salaam warohmatullahi wabarokatuh Yang ana ketahui sebagaimana yang disebutkan Imam Adz-dzahabi dalam siyar a’laam an- nubala’: 2/114, dan Beliau menukil dari Ibnu Ishaq rahimahullah,pengarang kitab siroh bahwa pada saat Khadijah radhiallahu anha menawarkan kepada Nabi (yang tentunya pada saat itu Beliau belum berstatus sebagai Nabi dan Rasul) untuk keluar membawa hartanya menuju Syam. Maka Beliau pun keluar bersama Maisaroh. Maka tatkala tiba kembali, maka Khadijah menghitung hasil dagangannya, maka hasil berlipat ganda. Maka Khadijah radhiallahu anha tertarik padanya, lalu Ia pun menawarkan dirinya kepada Rasulullah, dan Beliau menikahinya, dan memberi kepadanya mahar sebesar 20 ekor onta betina. Demikian pula yang disebutkan oleh Ibnu Hisyam dalam siroh-nya: 2/9. Dan ini pula yang dipegang oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-nihayah: 2/294,dan Shofiyyur Rohman AL-Mubarokfuri dalam kitabnya: Ar-Rohiiq Al-Makhtum: hal: 73. Namun Al-Imam Adz-Dzahabi menukil ucapan Ibnu Ishaq tanpa sanad, sehingga riwayat ini pun belum menunjukkan keshahihannya,untuk dapat dijadikan sebagai pegangan. Wallahu a’lam. Adapun yang ditanyakan riwayat mahar seratus ekor onta merah,hingga saat ini ana belum pernah mendapatkannya . Wallahu a’lam. -- Al Ustadz Abu Karimah Askary --
Read More..